Setelah bungkus obat dibuka 1 bungkusan dijual terpisah … Hukum Tertinggi “Pelanggaran Undang-Undang Urusan Farmasi”

서울 서초구 대법원에서 법원 깃발이 바람에 나부끼고 있다. 연합뉴스

Bendera pengadilan berkibar tertiup angin di Mahkamah Agung di Seocho-gu, Seoul. Yonhap News

Jika satu bungkus obat dijual terpisah setelah bungkusnya dibuka, maka Undang-Undang Urusan Kefarmasian Mahkamah Agung memutuskan bahwa itu dilanggar.

Divisi pertama Mahkamah Agung (Hakim Ketua Kim Seon-eun) mengumumkan pada tanggal 1 bahwa telah mengkonfirmasi kasus pengadilan yang dijatuhi hukuman denda 300.000 won dalam banding apoteker A, yang dituduh melanggar Undang-Undang Urusan Farmasi.

Pada bulan Februari tahun lalu, Bapak A membuka kemasan obat antipiretik dan analgesik serta diserahterimakan ke persidangan atas tuduhan menjual 5 tablet 1 kemasan dalam kotak.

Undang-undang Urusan Kefarmasian melarang membuka dan menjual wadah atau kemasan obat. Selain untuk menjaga khasiat obat dan mencegah kemunduran, wadah atau kemasan sebaiknya memuat informasi penting seperti tanggal kadaluwarsa, bahan, pemakaian dan dosis, sehingga harus dipastikan.

Selama proses persidangan, Pak A berargumen, “Saya tidak menjual obat satu per satu, tetapi menjual satu bundel berisi 5 tablet.”

Namun, persidangan pertama menilai dakwaan Tn. A bersalah dan menjatuhkan hukuman denda 300.000 won, dengan mengatakan, “Bahkan jika paket itu dijual tanpa dibongkar, itu harus dipandang sebagai pelanggaran Undang-Undang Urusan Farmasi.” Pengadilan kedua juga mempertahankan hukuman percobaan pertama.

Reporter Na Unchae na.unchae@joongang.co.kr

Baca Selengkapnya

Author: Sharie Volkman

Leave a Reply